You are here
Home > Damai

Resolusi Pasca Ramadhan

Sekarang kita sudah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan. Kalimat yang biasanya muncul adalah….

NGGAK TERASA YA?

Iya banget. Ramadhan itu, datang tak dijemput pulang tak diantar, hush! Lo kate jelangkung?!

Haha. Enggak. Maksud saya, Ramadhan itu… kehadiran dan kepergiannya benar-benar tidak terasa. Tiba-tiba saja, ia datang. NGGAK KERASA YA, UDAH RAMADHAN AJA. Dan tiba-tiba pula ia pergi. Betul-betul bulan yang datang secepat kilat, pergi seambisius pesawat *apadeh

Nah, beberapa tahun belakangan ini, saya mencoba menerapkan (semacam) resolusi Ramadhan. Nggak yang gimana-gimana gitu kok. Yang penting saya melaksanakan ibadah Ramadhan dengan sukacita. Apa? Yap, dengan sukacita. Saya berusaha seoptimal mungkin, supaya sahur, puasa, sholat tahajud, tarawih, tilawah, ibadah apapun deh, yang saya lakukan, itu semua bermodalkan rasa senang, sumringah bin bahagia.

Saya engga mau ibadah karena tertekan… karena “Nggak enak ah dilihat orang…” (siapa yang kayak begini?) karena…. “Ya gimana lagi ya, muslim kan emang harus puasa, bukan?”

NO WAY. Mestinya, ibadah itu kita lakukan dengan BAHAGIA. (Well, sampe detik ini, saya belum bisa mendefinisikan arti “ikhlas” jadi baiklah, saya pakai diksi “Bahagia” saja)

Kalau semua itu diawali dengan bahagia, niscaya kita akan menikmati proses dan hasilnya akan luar biasa.

Saya BAHAGIA dengan semua pernak/pernik Ramadhan

Saya BAHAGIA bisa tarawih di Masjid nyaris setiap malam (karena perempuan pasti ada bolongnya kan, huehehe)

Saya BAHAGIA bisa sahur dengan tenang, makan secukupnya tidak berlebihan

Saya BAHAGIA bisa punya kesempatan (dan kemauan!) untuk baca Al-Qur’an di tengah pekerjaan yang kian menggunung

Saya BAHAGIA bisa tetap olahraga pilates, jalan ringan, walaupun saya tengah berpuasa.

Saya BAHAGIA bisa menahan lidah untuk tidak ghibah (walau kadang-kadang keceplosan hiks  *__* ) at least bulan ramadhan membuat mulut saya lumayan terkontrol.

 

Saya BAHAGIA

Saya BAHAGIA

 

Dan…. saya BAHAGIA bisa merasakan KESEDIHAN tatkala Ramadhan akan pamit, meninggalkan kita.

*tears*

Pasca Ramadhan, tentu saya ingin jadi sosok ibunda yang jauuuuh lebih baik. Hmmm, sulit mendefinisikannya. Tapi, yang jelas, paling tidak saya bisa mengajarkan kebaikan untuk anak saya. DIa akan belajar untuk menerima aneka perbedaan dalam hidup, in terms of beda pilihan, beda suku, beda agama, dll dsb.

Dari situ, dia engga gampang untuk men-judge bahwa si ono begono, si anu beginu. NO WAY. Saya ingin ajarkan anak toleransi (tentu yang tidak kebablasan ya 🙂 Supaya ia tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang tangguh, dan engga mudah menyerah.

 

Okai. Ini semacam resolusi pasca Ramadhan-ku. Bagaimana dengan kamu?

IMG_1554

 

 

Top