You are here
Home > Damai

Najib Abdurrauf Bahasuan (Owber PT Behaestex) : Infaq itu Bukan Cost, Tapi Investasi

Najib Abdurrauf Bahasuan

Infaq itu Bukan Cost, Tapi Investasi

Sebagai Presiden Direktur PT Behaestex (salah satu produsen sarung terbesar di Indonesia) hari-hari Najib Abdurrauf Bahasuan tentu lekat dengan beragam kesibukan. Kendati demikian, Najib tetap memainkan peran sebagai kepala keluarga sekaligus role model untuk ketiga putranya. Simak perbincangan saya  dengan pria yang membawahi 6200 karyawan, dan pabrik yang tersebar mulai Gresik, Pandaan, Pekalongan dan berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Meskipun sibuk, Pak Najib tetap dekat dengan anak. Bagaimana Anda menerapkan prinsip fatherhood (keayahan) terhadap keluarga?

Dalam setiap keluarga, tanggung jawab utama memang ada pada ayah, dibantu dengan peran ibu. Selama ini, kami memang mengedepankan dialog dan komunikasi dengan anak. Apalagi, mereka sudah remaja. Yang sulung kelas 2 SMA, adiknya kelas 2 SMP, yang bungsu kelas 3 SD.

Ada re-orientasi dalam keluarga kami. Bisa dibilang, saat ini kami tengah berhijrah. Hijrah secara fisik, maupun ruhiyah. Sebelumnya, keluarga kami tinggal di perumahan Surabaya Barat. Di sana jumlah muslim terbatas. Saya cukup kesulitan menemukan komunitas muslim. Padahal, keberadaan saudara sesama muslim amatlah signifikan untuk memberi nuansa keislaman pada keluarga kita. Karena itulah, kami berhijrah ke kawasan Gayungsari. Tujuannya untuk  mendekatkan dengan komunitas muslim. Alhamdulillah, saat ini, setiap subuh, kami sholat berjamaah di Masjid Al-Akbar. Bukan hanya itu. Beberapa sahabat anak saya juga banyak yang tinggal dekat sini. Mereka bisa saling menyemangati untuk beribadah dan menambah amal kebaikan.

Banyak tantangan yang kita hadapi sebagai orang tua. Apalagi, media informasi begitu banyak, kita sama sekali tak bisa membendung arus informasi. Salah satu PR yang kita hadapi adalah, bagaimana memastikan bahwa anak kita bergaul dengan komunitas yang baik. Kita, para orang tua, harus tahu dengan siapa saja anak kita bergaul. Harus tahu nomor HP teman mereka, bahkan kalau perlu nomor HP para orang tua masing-masing. Kenapa? Ini untuk mengantisipasi agar tidak terjadi hal-hal di luar batas. Memang, kita tak bisa mengekang anak. Beri kesempatan kepada mereka untuk bergaul, tentu kita fasilitasi, tapi orang tua tetap harus mengontrol.

Selebihnya, saya sering berdiskusi dengan anak, apa sih tujuan pergi bareng teman? Kalau sekedar kumpul, saya mengarahkan anak untuk mengajak teman-teman mereka main ke rumah kami. Sedari awal, kami memang mendesain rumah ini sebagai basecamp atau lokasi berkumpul komunitas. Baik itu komunitas saya, istri, maupun anak-anak. Kami menyediakan musholla di lantai 2, yang rutin dijadikan lokasi pengajian. Kami undang pembicara para ustadz yang kompeten, untuk menambah ilmu agama dan menyejukkan hati. Istilahnya, rumah kami ini bisa menjadi sarana destinasi wisata ruhiyah.

Bagaimana mengarahkan putra-putri Anda sekaligus membangkitkan semangat agar istiqomah berjamaah di Masjid dan melakukan amal kebaikan lainnya?

Orang tua memang harus jadi role model. Ketika kita mengajak mereka sholat subuh ke Masjid, ya kita harus jadi orang terdepan yang melakukan hal tersebut. Sama halnya dengan kebiasaan berinfaq. Setiap pagi, kami mewajibkan diri masing-masing untuk berinfaq. Usai sholat subuh, kami jalan pergi-pulang ke Masjid, dengan rute yang berbeda. Ketemu tukang becak, petugas kebersihan, ataupun orang dhuafa, anak-anak sudah terbiasa memberikan sedekah subuh kepada mereka. Menurut saya, untuk urusan infaq atau sedekah harus benar-benar didoktrinkan oleh orang tua. Mengapa? Kalau tidak dipaksakan, akhirnya infaq hanya menjadi pilihan yang sekedar opsional.

Bicara tentang infaq, harus berangkat dari keyakinan. Yakin bahwa Al-Qur’an itu firman Allah. Yakin bahwa Allah PASTI mengembalikan setiap sedekah ataupun zakat yang kita berikan.

Kalau dilihat dari neraca perusahaan, zakat ataupun infaq masuk dalam komponen cost alias biaya. Tapi, saya pribadi meyakini bahwa zakat/infaq itu BUKAN cost, melainkan investasi. Memang ada uang yang dikeluarkan, tapi itu adalah investasi. Ini yang harus kita pahami.

Prinsip “Zakat/infaq adalah Investasi, dan bukan Cost” ini sangat menarik.

Prinsip ini yang memang harus kita jadikan pedoman. Mengapa? Sebab, konsep yang kurang tepat nantinya akan membuat jalan hidup kita keliru.

Contohnya, kita kerap begitu bersemangat memburu dunia, tapi lupa bahwa kampung akherat jauh lebih penting. Coba kita balik. Sejatinya, orientasi visi kehidupan ini adalah untuk akherat, tapi jangan lupakan dunia. Dari sini, kita bakal punya orientasi hidup yang berbeda. Kita menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja, berkomunitas, itu semua untuk visi akherat. Kita berinfaq untuk visi akherat. Sehingga kita lebih bersemangat untuk infaq harta, maupun infaq waktu dan tenaga. Jangan lupa, setiap muslim punya kewajiban untuk beraktivitas sosial dakwah, sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Berakhirnya usia nggak menunggu kita tua. Bisa saja ada accident. Kematian bisa datang sewaktu-waktu. Ini menggiring mereka untuk terus-menerus memperbanyak amal baik. Juga bersemangat untuk dakwah.

Saya juga membiasakan anak-anak untuk mengenal kawan-kawan saya. Setiap ada kawan ke rumah, saya panggil anak-anak, mereka harus salaman, karena ini bagian dari adab pergaulan yang harus mereka jalankan. Tampak sepele, tapi ini memang harus kita lakukan. Butuh lingkungan yang kondusif agar anak-anak semakin bangga dan PD dengan syariat Islam. (*)

 

Top