You are here

Berdamai itu Menyenangkan!

Sebagai seorang ibu, saya ingin selalu memberikan edukasi soal akhlak yang baik kepada anak. Tidak melulu dilakukan dengan ceramah panjang lebar sih (karena anak juga akan ‘reject’ metode seperti ini). Alternatifnya adalah, saya lakukan dengan cara menulis CERPEN! 

Seperti cerpen di bawah ini. Ceritanya sederhana. Tentang dua sahabat yang karena satu hal sepele, eh, harus terlibat perang dingin. Semoga bisa memberi “hikmah” untuk anak kita ya. Selamat membaca… kan untuk anak 🙂

 

SALMAN VS ERVAN

Sudah beberapa hari ini, Salman main di rumah. Sehari-hari, Salman hanya menggendong dan bersenda gurau dengan kucing-kucing piaraannya. Padahal, sekarang lagi musim liburan sekolah. Di musim libur semester lalu, Salman rutin bermain dengan beberapa sahabatnya. Ibu jadi penasaran. Ada apa ya, dengan Salman?

Ia menghampiri Salman, dan berkata pelan, ”Nak, kok tumben kamu nggak main ke rumah Ervan?”

Salman menggeleng. ”Enggak Bu, aku main di rumah saja.”

“Hmm. Ervan juga nggak main ke rumah kita. Ada apa sih, sebenarnya?”

“Nggak apa-apa kok, Bu.”

Salman tetap asyik bermain sama kucing kesayangan. “Ya udah, sekarang Ibu minta tolong. Bisa kan, kamu antar kolak pisang ini ke rumah Ervan? Keluarga Ervan senang banget makan kolak pisang. Biar sekalian jadi menu buka puasa untuk mereka. Tolong ya Nak…”

Salman mendesah. ”Salman lemes banget Bu. Baru puasa hari pertama. Bisa dianterin Bibik aja ya, kolaknya?”

Sekarang gantian Ibu yang mendesah. Ia membatin, “Kamu kenapa sih, Nak? Mbok ya cerita sama Ibu kalau lagi ada masalah sama teman…”

***

Sambil menunggu adzan Maghrib, Ibu dan Salman membaca dan men-tadabburi Al-Qur’an. Luar biasa ya bulan Ramadhan ini. Kita jadi semangat untuk memperbanyak amal kebaikan. Hati juga lebih tenang dan lembut.

Setelah baca Al-Qur’an, Ibu kembali bertanya pada Salman. ”Eh, nanti malam kita tarawih ya Nak. Lebih asyik kalau tarawih bareng-bareng teman. Ervan juga tarawih di Masjid kan?”

Salman mengangguk malas. Sama sekali tidak antusias. Benar-benar tidak seperti Salman yang biasanya.

“Ya sudah, kalau gitu, kamu telepon Ervan dulu ya? Biar dia siap, sudah pakai baju muslim dan berangkat tarawih bareng kita.”

“Enggak, Bu. Aku tarawih bareng Ibu dan Ayah saja.”

“Loh, tahun-tahun lalu, kita tarawih bareng Ervan sekeluarga juga kan?”

“Iya, tapi sekarang aku nggak mau tarawih bareng.”

Ibu menggeleng-gelengkan kepala. “Sekarang, coba cerita sama Ibu. Ada masalah apa di antara kalian berdua? Kalian kan bersahabat sudah lama, sejak kelas 1 SD. Masak sekarang kok jadi renggang gini?”

Salman mulai bersuara. Ia berkisah, suatu hari, Ervan, Salman dan beberapa anak bermain bersama di depan lapangan. Entah bagaimana mulanya, Ervan merasa, Salman curang dalam bermain. Akhirnya, Ervan kalah, dan mulai dari situ, Ervan tidak mau berteman dengan Salman.

“Nggak enak main sama Salman. Soalnya, Salman semaunya sendiri. Nggak taat sama aturan dan nggak adil,” tukasnya.

“Oh, gitu. Wah, sayang banget ya, gara-gara bermain, yang tujuan awalnya supaya bersenang-senang, eh…kalian malah berakhir ngambek-ngambekan. Ibu mau mengingatkan saja. Rasul pernah mengatakan, ‘Perumpamaan kaum mukminin dalam kecintaan dan kasih sayang mereka adalah bagaikan satu jasad. Apabila satu anggota tubuh sakit maka seluruh badan akan susah tidur dan terasa panas.’ Itu Rasul loh, yang bilang. Di dalam Al-Qur’an juga sudah dijelaskan, surat Al-Hujurat 10 yang kita baca tadi,  ‘Sesungguhnya hanya kaum muslimin yang bersaudara. Karena itu, berupayalah memperbaiki hubungan antara kedua saudara kalian..’  Nah, Ervan dan Salman kan sama-sama anak muslim. Ayo dong, kita laksanakan apa yang diperintahkan Al-Qur’an dan Hadits Rasul….”

Salman menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. ”Sebenarnya Salman sudah mau berusaha damai sama Ervan, Bu. Tapi, pas kapan hari aku ke sana bareng Raihan, Rasya dan Ananto, Ervan teriak begini dari dalam rumah, ’Yang boleh masuk cuma Raihan, Rasya dan Ananto!’ Aku kan mangkel Bu. Itu artinya aku nggak boleh masuk ke rumahnya.”

Ibu tersenyum lembut. ”Sabar ya, Nak. Setiap orang tentu ada ujiannya. Mungkin waktu itu, Ervan juga masih kesel. Jadi, kita berdoa saja ya. Supaya Allah melembutkan hati kita semua.  Karena bagaimanapun juga, kita juga harus berpedoman dengan sabda Rasul, ‘Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot (tidak menyapa) saudaranya lebih dari 3 hari.’ Ya udah, kamu ke rumah Ervan bareng Ibu ya. Kan nggak mungkin dia melarang Ibu masuk ke rumahnya. Yuk, Bismillah…”

Allahu Akbar… Allahu Akbar…… Terdengar adzan Maghrib dari Masjid.

“Eh, itu sudah adzan, Bu? Iya, kita buka dan sholat Maghrib dulu. Lalu jemput Ervan ya?”

“Siip, anak Ibu memang sholeh dan baik hati,” ujar Ibu seraya tersenyum.(*)

 

 

Top