You are here
Home > Damai

MEREGUK KENIKMATAN “BHINNEKA TUNGGAL IKA” DI KAMPUNG AMPEL SURABAYA

Ketika gedung-gedung jangkung mulai mencakar langit Surabaya, ada sebuah kerinduan yang hadir di hati. Sebuah rindu pada budaya asli begitu menguat. Surabaya sebuah kota yang menjadi titik temu masyarakat multi-etnis. Kaum Arab, pecinan, Jawa, Madura, dan etnis lainnya berkumpul menjalin hidup yang berkelindan di bumi Surabaya. Semuanya hidup berdampingan dengan damai. Menggapai rezeki tanpa harus main sikut sana-sini.

ampel-1 ampel-3 ampel-7 ampel-9 ampel-cover highlight img_9927

Mari kita berkunjung ke Ampel. Inilah kampung yang identik dengan julukan “Kampung Arab”. Padahal sejatinya inilah destinasi kampung multi-etnis. Memang, mayoritas adalah masyarakat etnis Arab. Tapi, tak jarang kita jumpai warga etnis Madura dan Jawa yang juga menyambung hidup di sini.

Masjid Ampel adalah tetenger (landmark) yang membuat kawasan ini terus dijejali wisatawan. Beribadah dalam suasana ala Arab, seolah-olah kita tengah berada di kawasan Makkah versi miniatur tentu saja. Lantunan bacaan Al-Qur’an bertalu-talu dari segenap penjuru. Ritual sholat juga dilakukan dengan sepenuh jiwa. Semata menghamba pada Sang Maha Sutradara Kehidupan.

Beberapa pengunjung memilih untuk nyekar ke makam Sunan Ampel. Yang lain melakukan kebiasaan khas para pelancong nusantara. Yap. Apalagi kalau bukan belanja-belanja!

Hari itu, kami susuri pedagang-pedagang yang menggelar lapak di gang dekat Masjid Ampel. Aneka barang ditawarkan. Utamanya, untuk oleh-oleh jamaah haji atau umroh, seperti kurma, air zam-zam dan lain sebagainya. Memori tentang pasar seng Mekkah, tiba-tiba berkelebatan di benak. Belum lagi, murottal yang terus diputar dari tape tua. Atau, beberapa pedagang yang membalurkan minyak wangi khas Arab di sekujur tubuh mereka. Ini Arab banget!

Jangan lupa untuk memilih aneka pakaian yang ditawarkan di sana. Harganya amat sangat terjangkau. Dengan catatan, Anda harus piawai menawar! Untunglah, pedagang di sini bukan tipikal pengeruk duit pengunjung. Mereka membuka dengan harga yang masih terbilang wajar. Tapi, kalau Anda tak mau rugi, bolehlah ditawar 30 hingga 40% dari angka yang mereka buka di awal.

Waktu itu, saya hendak membelikan 1 setel baju muslim untuk Sidqi, anak saya. Macam-macam model dan warna yang tersedia.

Ada satu pasang yang menarik perhatian. Berapa harga yang dibandrol pedagang? 150 ribu rupiah. Wohooo… langsung aja, saya main tawar jadi 80 ribu.

Belum mau, silakan pura-pura ambil langkah “Ya udah, saya cari di toko sebelah aja…”

Nah, di situlah, si pedagang manggil-manggil, dan akhirnya saya dikasih harga 90 atau 100 ribu, yeayyy!

(Lupa persisnya, seingat saya sih, di kisaran angka itu).

Jalan Sasak menjadi tempat Pasar Kampung Ampel. Ini karena Jalan Sasak adalah salah satu titik ekonomi utama di Kampung Arab Surabaya sekaligus menjadi salah satu jalan tersibuk di Surabaya.

Kampung Arab Surabaya ditinggali oleh warga keturunan Yaman, India, Tionghoa, Madura, Banjar, dan Jawa, ya kalau Anda ingin tahu implementasi Bhinneka Tunggal Ika, datanglah ke mari.

Kampung Arab ini meliputi dua kelurahan, Kelurahan Ampel dan Kelurahan Nyamplungan yang berada di kawasan Kota Lama, Surabaya Utara.

Jalan Sasak menjadi jalan penghubung menuju titik ekonomi lainnya yaitu Gang Ampel Suci (Pasar Gubah), Jalan KH Mas Mansyur, dan Jalan Panggung (Pasar Pabean).

Di Jalan Sasak terdapat lebih dari 30 toko yang beroperasional di jalan sepanjang 700 meter dengan trotoar selebar 1 meter di satu sisi jalan. Toko kitab, toko parfum, toko kurma, toko sarung, toko perlengkapan muslim, toko oleh-oleh haji, dengan papan nama yang klasik dari papan kayu yang digambar manual. Berderet nama toko yang menggugah untuk dikenang seperti “Terkenal”, “Shaat”, “Al-Fadilah”, “Abdul Azis”, “Roma”, “Pustaka AS”, “Al- Hijaaz”.

Jadi, bagaimana? Kalau jatah cuti tahunan masih ada, silakan agendakan kunjungan ke Kampung Arab Surabaya.

Ampel siap menyajikan pesona tiada tara.(*)

Top